KHAROKAT (tulisan ini
dimaksudkan sebagai sebuah kritikan)
Sebelum lebih jauh membahas tentang tema ‘kharokat’, penulis
ingin menyampaikan beberapa kerancuan tentang penggunaan kata ‘kharokat’ dalam
penyampaian materi tajwid, sehingga pelajar Alqur’an tidak mendapatkan
pengertian kata ‘kharokat’ secara proporsional. Sehingga, ketika ia menjadi
ustadz di kemudian hari, dan harus menyampaikan materi tajwid, ia gamang dalam
memberikan definisi kata ‘kharokat’ kepada muridnya.
Sebagai contoh, dalam pembahasan tema mad misalnya, sering kita
mendengar kata ‘kharokat’ digunakan untuk menunjukkan satuan panjang suatu mad.
Misalnya dalam kalimat: “Mad Thobi’i panjangnya dua ‘kharokat’. Jelas, kata
‘kharokat’ dalam kalimat tersebut menunjukkan arti ukuran panjang suatu mad.
Kita juga telah akrab mendengar ungkapan seperti ‘kharokat
fatkhah, kharokat kasroh, dan kharokat dlommah”. Dalam ungkapan ini pengertian
‘kharokat’ itu apa ya ? Setuju engga, kalau ‘kharokat’ dalam ungkapan tersebut
diartikan dengan ‘tanda’ ?
Sahabat SILAT
Mana yang lebih tepat dari dua contoh penggunaan kata ‘kharokat’ di atas ? Penulis berpendapat bahwa untuk pemakaian yang tidak cocok, sebaiknya di buang sehingga tidak membingungkan.
Mana yang lebih tepat dari dua contoh penggunaan kata ‘kharokat’ di atas ? Penulis berpendapat bahwa untuk pemakaian yang tidak cocok, sebaiknya di buang sehingga tidak membingungkan.
Sahabat SILAT
Kata ‘kharokat’ berasal dari akar kata bahasa arab “kha-ro-ka” yang berarti ‘bergerak’. Untuk menunjukkan fungsi kata benda, sering dituliskan ‘kharokatun’ dan dibaca ‘kharokat’ pengertiannya berubah sedikit menjadi ‘gerakan’.
Dengan berpedoman pada pengertian dasar dari arti kata ‘kharokat’ tersebut, penulis berpendapat bahwa kata ‘kharokat’ ini lebih tepat apabila digunakan untuk menyatakan satuan panjang. Penggunaan kata ‘kharokat’ dengan makna ‘tanda’, agaknya kurang relevan.
Kata ‘kharokat’ berasal dari akar kata bahasa arab “kha-ro-ka” yang berarti ‘bergerak’. Untuk menunjukkan fungsi kata benda, sering dituliskan ‘kharokatun’ dan dibaca ‘kharokat’ pengertiannya berubah sedikit menjadi ‘gerakan’.
Dengan berpedoman pada pengertian dasar dari arti kata ‘kharokat’ tersebut, penulis berpendapat bahwa kata ‘kharokat’ ini lebih tepat apabila digunakan untuk menyatakan satuan panjang. Penggunaan kata ‘kharokat’ dengan makna ‘tanda’, agaknya kurang relevan.
Marilah kita ulangi
pembahasan di atas.
Kalimat, “Mad Thobi’i panjangnya dua ‘kharokat’”. Kalimat tersebut dapat diterima/dipahami dengan makna, “Mad Thobi’i panjangnya dua ‘gerakan’. Penulis memberikan improvisasi, bahwa kata ‘gerakan’ bisa disamakan sebagai ‘ketukan’—misalnya.
Sebaliknya, ‘gerakan fatkhah, gerakan kasroh dan gerakan dlommah’, menurut penulis, ungkapan ini janggal dari sisi maknanya.
Oleh karena itu, penulis ingin agar penggunaan kata ini ‘lebih dikonsistenkan’ lagi. Dalam tulisan-tulisan di blog ini, penulis menggunakan kata ‘kharokat’ untuk menunjukkan satuan panjang, dan lebih spesifik lagi, penulis mendefinisikannya sebagai ‘KETUKAN’.
Kalimat, “Mad Thobi’i panjangnya dua ‘kharokat’”. Kalimat tersebut dapat diterima/dipahami dengan makna, “Mad Thobi’i panjangnya dua ‘gerakan’. Penulis memberikan improvisasi, bahwa kata ‘gerakan’ bisa disamakan sebagai ‘ketukan’—misalnya.
Sebaliknya, ‘gerakan fatkhah, gerakan kasroh dan gerakan dlommah’, menurut penulis, ungkapan ini janggal dari sisi maknanya.
Oleh karena itu, penulis ingin agar penggunaan kata ini ‘lebih dikonsistenkan’ lagi. Dalam tulisan-tulisan di blog ini, penulis menggunakan kata ‘kharokat’ untuk menunjukkan satuan panjang, dan lebih spesifik lagi, penulis mendefinisikannya sebagai ‘KETUKAN’.
Menurut penulis, kharokat adalah satuan waktu yang dibutuhkan untuk mengucapkan
satu khuruf Alqur’an. Satuan waktu itu terikat dengan kaidah kharokat yang
bersifat tetap dan teratur.
Dalam prakteknya, hitungan waktu itu berbeda-beda bergantung
kemampuan/keterampilan orang yang membacanya.
Misalnya, orang yang baru belajar Alqur’an, ia baru mengenal
khuruf, ia membutuhkan satuan waktu yang lambat untuk mengucapkan deret khuruf
secara rata dan teratur, dikarenakan masih harus berpikir nama/bunyi khuruf.
Untuk tingkatan pelajar pemula, mungkin 1 kharokat sebanding dengan 1 detik.
Artinya, ia akan mengucapkan deret khuruf yang masing-masing khurufnya dibaca
dalam 1 detik. Bila deret khuruf itu berjumlah 6 khuruf, ia akan membacanya
dalam waktu 6 detik, dibaca secara tetap dan teratur, yaitu tiap khuruf per 1
detik.
Berbeda lagi dengan orang yang telah mahir membaca Alqur’an, ia
akan memiliki satuan waktu membaca tiap khuruf Alqur’an dengan cepat. Ia akan
mampu membaca 1/4 detik per 1 khuruf sehingga dalam waktu 1 detik ia akan
membaca 4 khuruf. Atau bahkan, untuk tingkatan bacaan cepat, ia akan membaca
1/10 detik per 1 khuruf sehingga dalam waktu 1 detik ia akan membaca 10 khuruf.
Jadi, kharokat itu adalah satuan waktu yang relatif bergantung
siapa yang membacanya. Semakin lambat seseorang membaca Alqur’an, semakin
lambat pula durasi kharokatnya. Demikian sebaliknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukron Katsiron