Sabtu, 13 Juni 2015

Cara Membaca Macam-macam MAD

Cara Membaca Mad Thobi’i

Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 14 khuruf.  Karena spasi tidak mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 14 ketukan yang sama, rata dan teratur.
Khusus khuruf WAWU dan ALIF yang berfungsi sebagai tanda JAMAK (lihat ketukan ke-10), dihitung satu khuruf atau satu ketukan. Ini berlaku umum. Semua WAWU dan ALIF yang berfungsi sebagai tanda jamak, dihitung satu ketukan.
Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, ada 4 contoh bacaan mad. Yaitu terjadi pada ketukan ke-5 dan 6,  ke-9 dan 10, ke-11 dan 12 serta ke-13 dan 14. Panduan cara membaca Mad Thobi’i adalah sebagai berikut:
o    Ketukan ke-5 berbunyi “MA”. Pertahankan bunyi “MA” hingga ketukan ke-6. Bunyi “MA” berakhir sebelum ketukan ke-7 saat bunyi “SHO” diucapkan.
o    Ketukan ke-9 berbunyi ” ‘U “. Pertahankan bunyi ” ‘U ” hingga ketukan ke-10. Bunyi ” ‘U ” berakhir sebelum ketukan ke-11 saat bunyi “FI” diucapkan.
o    Ketukan ke-11 berbunyi “FI”. Pertahankan bunyi “FI” hingga ketukan ke-12. Bunyi “FI ” berakhir sebelum ketukan ke-13 saat bunyi “HA” diucapkan.
o    Ketukan ke-13 berbunyi “HA”. Pertahankan bunyi “HA” hingga ketukan ke-14. Bunyi “HA ” berakhir pada ketukan ke-15. Pas ketukan ke-15, bunyi “HA” sudah hilang.
Sahabat SILAT
Hak ketukan Mad Thobi’i hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’.  Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Thobi’i hanya 2 ketukan saja.
Untuk diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Thobi’i tidak boleh dikurangi. Pengurangan ketukan mad thobi’i, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan, mengakibatkan kesalahan fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena mengubah arti.

Cara Membaca Mad Badal


Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 10 khuruf.  Karena spasi tidak mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10 ketukan yang sama, rata dan teratur.
Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, bacaan mad badal terjadi pada ketukan ke-3 dan 4. Panduan cara membaca Mad Badal adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-3 berbunyi “A”. Pertahankan bunyi “A” hingga ketukan ke-4. Bunyi “A” berakhir sebelum ketukan ke-5 saat bunyi “MA” diucapkan.
Sahabat SILAT
Hak ketukan Mad Badal hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’.  Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Badal hanya 2 ketukan saja.
Untuk diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Badal tidak boleh dikurangi. Pengurangan ketukan mad Badal, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan, mengakibatkan kesalahan fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena mengubah arti.

Cara Membaca Mad Badal


Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 10 khuruf.  Karena spasi tidak mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10 ketukan yang sama, rata dan teratur.
Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, bacaan mad badal terjadi pada ketukan ke-3 dan 4. Panduan cara membaca Mad Badal adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-3 berbunyi “A”. Pertahankan bunyi “A” hingga ketukan ke-4. Bunyi “A” berakhir sebelum ketukan ke-5 saat bunyi “MA” diucapkan.
Sahabat SILAT
Hak ketukan Mad Badal hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’.  Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Badal hanya 2 ketukan saja.
Untuk diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Badal tidak boleh dikurangi. Pengurangan ketukan mad Badal, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan, mengakibatkan kesalahan fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena mengubah arti.

Cara Membaca Mad Tamkin



Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 9 khuruf.  Namun, karena Mad Tamkin dihitung 2 ketukan (Khuruf ber-tasydid mendapatkan hak 2 ketukan), maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10  ketukan yang sama, rata dan teratur.
Saudaraku…
Pada contoh di atas, bacaan Mad Tamkin terjadi pada ketukan ke-7 dan 8. Panduan cara membaca Mad Tamkin adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-7 berbunyi “YI”. Pertahankan bunyi “YI” hingga ketukan ke-8. Bunyi “YI” berakhir/hilang pada ketukan ke-9 saat pindah ke bunyi “TUM”.
Saudaraku…
Hak ketukan Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’.  Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja.

MAD SHILAH QOSHIROH


Mad Shilah Qashirah yaitu pemanjangan suara pada khuruf HA dlomir (suara HII atau HUU kata ganti orang ketiga tunggal) dengan syarat tidak diikuti khuruf hamzah sesudahnya. Suara HII atau HUU pada kata ganti orang ketiga, akan dipanjangkan ketika diapit oleh khuruf-khuruf hidup. Pemanjangan suara pada khuruf HA dlomir tidak disebabkan oleh khuruf mad, tetapi karena diapit oleh khuruf hidup, dengan tujuan agar bacaannya menjadi mudah.
Penambahan khuruf hamzah sesudahnya mengakibatkan kasus mad berbeda yang bernama Mad Shilah Thowilah.
Mad Shilah Qoshiroh panjangnya 2 ketukan saja.

Contoh Mad Shilah Qoshiroh adalah:

Mad ‘Aridl Lissukuun

Sahabat SILAT
Mad ‘Aridl Lissukuun adalah mad yang diikuti oleh khuruf (yang sebenarnya hidup, tapi…) dimatikan, karena ada di akhir bacaan (posisi waqof).
Boleh jadi, akhir bacaan itu pas terjadi di akhir ayat (ditandai nomor ayat). Atau bisa juga terjadi di tengah ayat, yang karena terbatasnya nafas, bacaan harus terhenti sebelum akhir ayat. Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di atas. Mad ‘Aridl Lissukun tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.
Durasi yang diperkenankan untuk Mad ‘Aridl Lissukun adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.
Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad ‘Aridl Lissukuun dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.
Untuk memperjelas penjelasan tentang Mad ‘Aridl Lissukun, mari kita simak contoh berikut:

Sahabat SILAT
Deret khuruf yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang menunjukkan formasi Mad ‘Aridl Lissukun. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Attiin  dibaca total hanya dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir ayat terakhir.
Untuk diingat, Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).

Mad Lin

Sahabat SILAT
Mad Lin (atau juga disebut Mad Layyin) adalah mad yang terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof/berhenti membaca) dengan formula : Bacaan miring + satu khuruf (yang sebenarnya hidup, tapi…) dimatikan, karena ada di posisi waqof.
Yang disebut bacaan miring (lin) adalah bacaan “AI” atau bacaan “AU”. Bacaan “AI” terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf  YA SUKUN. Bacaan “AU” terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf  WAWU SUKUN.
Jadi Mad Lin terjadi pada bacaan AU + satu khuruf yang dimatikan, atau bacaan AI + satu khuruf yang dimatikan.
Mad Lin hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di atas. Mad Lin tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.
Durasi yang diperkenankan untuk Mad Lin adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.
Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Lin dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.
Di antara contoh Mad Lin adalah seperti tersebut pada Surat Quroisy sebagaimana berikut:

Sahabat SILAT
Deret khuruf yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang menunjukkan formasi Mad Lin. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Quroisy dibaca total hanya dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad Lin hanya terjadi pada akhir ayat terakhir.
Untuk diingat, Mad Lin hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).

Mad Wajib Muttashiil

Sahabat SILAT
Apakah Mad Wajib Muttashiil itu ?
Mad Wajib Muttashiil terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH QOTHO’, dimana letak keduanya masih dalam satu kata.
Durasi pengucapan Mad Wajib Muttahiil adalah 4 atau 5 ketukan.
Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan  4 atau 5 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Wajib Muttahiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua  bacaan yang berformula mad ini.
Di antara contoh Mad Wajib Muttashiil adalah  sebagai berikut:

Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, ada 4 kotak tulisan berwarna merah. Itulah contoh empat buah kata yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’ (dalam 1 kata). Itulah contoh Mad Wajib Muttashiil.

Mad Jaiz Munfashiil

Sahabat SILAT
Apakah Mad Jaiz Munfashiil itu ?
Mad Jaiz Munfashiil terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH QOTHO’, dimana letak keduanya terpisah, tidak dalam satu kata. Jadi Mad Thobi’i-nya terletak pada akhir sebuah kata, kemudian Hamzah Qotho’-nya terletak di awal kata berikutnya.
Durasi pengucapan Mad Jaiz Munfashiil adalah 4 atau 5 ketukan.
Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan  4 atau 5 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Jaiz Munfashiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua  bacaan yang berformula mad ini.
Di antara contoh Mad Jaiz Munfashiil adalah  sebagai berikut:

Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, ada 2 contoh yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’ (dalam 2 kata). Itulah contoh Mad Jaiz Munfashiil.

SARAN:

Agar bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Jaiz Munfashiil disamakan dengan panjang Mad Wajib Muttahiil, sehingga menjadi singkron. Bila Mad Wajib Muttashiil  dibaca dengan durasi 5 ketukan, maka Mad Jaiz Munfashiil sebaiknya juga 5 ketukan.



Perbedaan Mad Wajib Muttashiil dan


 Mad Jaiz Munfashiil

Sahabat SILAT
Ada kesamaan rumus antara Mad Wajib Muttashiil dan Mad Jaiz Munfashiil. Keduanya timbul dari Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’. Bedanya hanya pada letak hamzah-nya saja. Pada Mad Wajib Muttashiil, Hamzah Qotho’ terletak dalam satu kata. Sedangkan pada Mad Jaiz Munfashiil, Hamzah Qotho’ terletak pada kata yang berbeda.
Permasalahannya adalah : Bagaimana membedakan letak hamzah pada 1 kata atau tidak ?
Bagi yang pernah mempelajari bahasa arab, hal ini bukan masalah. Bagi yang tidak mengerti bahasa arab, bagaimana ?
Banyak yang terjebak, ketika dalam ujian tahsin harus menentukan mana yang bernama Mad Wajib Muttashiil dan mana yang Mad Jaiz Munfashiil ?  Tertukarnya jawaban dilatarbelakangi ketidaktahuan tentang bahasa arab.
Jangan khawatir ! Karena masih ada satu cara menentukan kedua jenis mad ini, yaitu dengan melihat BENTUK PENULISAN HAMZAH-nya.
Coba anda lihat, penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Wajib Muttashiil berikut:
Kemudian… bandingkan dengan penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Jaiz Munfashiil berikut:

Hmmm….. Sekarang anda tahu bedanya bukan  ?  Ternyata penulisan hamzah di depan (sebagai tanda mad jaiz) dan di belakang (sebagai tanda mad wajib) sangat berbeda.

Mad Shilah Towilah

Apakah Mad Shilah Thowilah itu ?
Mad Shilah Thowilah terjadi apabila Mad Shilah Qoshiroh diikuti huruf hamzah.
Panjang Mad Shilah Thowilah adalah 4 – 5 kharokat.
Mana yang anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan  4 atau 5 ketukan, tetapi pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih membaca Mad Shilah Thowilah dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya pada semua  bacaan yang berformula mad ini.
Berikut ini adalah  contoh Mad Shilah Thowilah (perhatikan tampilan berwarna merah):
PERHATIAN:
Agar bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Shilah Thowilah disamakan panjangnya dengan Mad Jaiz Munfashiil  dan Mad Wajib Muttahiil, sehingga menjadi singkron. Bila Mad Wajib Muttashiil  dan Mad Jaiz Munfashiil dibaca dengan durasi 5 ketukan, maka Mad Shilah Thowilah sebaiknya juga dibaca dengan panjang 5 ketukan.

Mad Lazim Mutsaqol Kalimi

Apakah Mad Lazim Mutsaqol Kalimi itu ?
Mad Lazim Mutsaqol Kalimi adalah Mad yang terjadi dari Mad Thobi’i yang diikuti oleh khuruf bertasydid, dimana keduanya masih berada pada satu kata. Bila tanda tasydid berada di lain kata, maka tidak terjadi mad.
Durasi Mad Lazim Mutsaqol Kalimi adalah 6 kharokat.
Berikut ini adalah contoh  Mad Lazim Mutsaqol Kalimi  (perhatikan tampilan berwarna merah):

Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi

Mad Lazim Mukhoffaf  Kalimi adalah mad yang terjadi dari pertemuan antara Mad Badal dengan khuruf  bertanda sukun (mati).
Durasi Mad Lazim Mukhoffaf  Kalimi adalah 6 kharokat.
Kasus mad ini hanya terjadi di 2 tempat dalam Al-quran, yaitu pada surat Yunus (10) ayat 51 dan 91.
Berikut ini adalah Mad Lazim Mukhoffaf  Kalimi (perhatikan tampilan berwarna merah):



Mad Farq

Mad Farq adalah mad yang terjadi dari pertemuan antara Mad Badal dan khuruf bertasydi.
Durasi Mad Farq adalah 6 kharokat.
Kasus mad ini hanya terjadi di 4 tempat dalam Al-quran, yaitu pada surat Al-An’am (6) ayat 143 -144, surat Yunus (10) ayat 59 dan surat An-Naml (27) ayat 59.
Berikut ini adalah Mad Farq (perhatikan tampilan berwarna merah) :


Mad Kharfi

Saudaraku…
Mad kharfi adalah bacaan panjang pada khuruf  MUQOTHO’AH. Khuruf Muqotho’ah adalah khuruf yang dibaca sebagaimana nama khurufnya. Khuruf Muqotho’ah terdapat pada ayat pertama surat-surat tertentu sebagai pembuka surat. Oleh karena itu khuruf muqotho’ah juga disebut fawatikhus suwar.
Secara garis besar, khuruf muqotho’ah dibaca dengan 3 pola sebagai berikut:
Pertama : Tidak ada mad (pemanjangan suara) yaitu khuruf ALIF. Khuruf ALIF sebagai khuruf muqotho’ah dibaca dengan bunyi “ALIF” dengan 3 ketukan (karena terdiri dari 3 khuruf).
Kedua : Mad sepanjang 2 ketukan, terjadi pada khuruf-khuruf berikut:
Ketiga : Mad sepanjang 6 ketukan, terjadi pada khuruf-khuruf berikut:
Contoh ayat yang mengandung khuruf muqotho’ah adalah:

Khuruf berwarna merah dibaca dengan durasi 2 ketukan, sedangkan khuruf berwarna biru panjangnya 6 ketukan.
Saudaraku…
Bagaimana cara membedakan khuruf yang dibaca 2 ketukan dan 6 ketukan ? Perhatikan bedanya !  Khuruf-khuruf yang apabila dituliskan namanya, ia terdiri dari 2 khuruf, maka ia dibaca 2 ketukan (seperti : RO, HA, YA, THO dan KHA). Khuruf-khuruf yang apabila dituliskan namanya, ia terdiri dari 3 khuruf, maka ia dibaca 6 ketukan (seperti : NUN, QOF, SHOD,  ‘AIN, SIN, LAM, KAF dan MIM).  Hmmm…. mudah bukan ?
Secara terperinci, Mad Kharfi terdiri atas 3 macam mad: yaitu Mad Lazim Mukhoffaf Kharfi, Mad Lazim Mutsaqol Kharfi dan Mad Thobi’i Kharfi.

Mad Lazim Mukhoffaf Kharfi

Mad Lazim Mukhoffaf Kharfi adalah mad yang bertemu sukun yang terjadi pada rangkaian khuruf-khuruf Muqotho’ah.
Durasi Mad Lazim Mukhoffaf Kharfi adalah 6 ketukan.
Contoh Mad Lazim Mukhaffaf Kharfi   adalah:

Khuruf-khuruf yang ditampilakan dengan warna biru, itulah yang disebut Mad Lazim Mukhaffaf Kharfi.

Mad Lazim Mutsaqol Kharfi

Mad Lazim Mutsaqol Kharfi adalah mad yang bertemu dengan tasydid (karena idghom) yang terjadi pada rangkaian khuruf muqotho’ah.
Durasi Mad Lazim Mutsaqol Kharfi adalah 6 ketukan.
Contoh Mad Lazim Mutsaqol Kharfi adalah:

Khuruf  LAM  yang bertemu Khuruf MIM dan  Khuruf SIN yang bertemu khuruf MIM, masing-masing menimbulkan tasydid dan menjadi idghom. Itulah yang disebut dengan Mad Lazim Mutsaqol Kharfi.

Mad Thobi’i Kharfi

Mad Thobi’i Kharfi adalah mad yang panjangnya 2 kharokat pada khuruf muqotho’ah.
Khuruf-khuruf yang tampak dengan tampilan warna merah pada contoh di bawah ini, itulah yang disebut dengan Mad Thobi’i Kharfi, panjangnya 2 ketukan.



Sumber binalquran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukron Katsiron