Cara Membaca Mad Thobi’i

Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 14 khuruf.
Karena spasi tidak mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus
dibaca dalam 14 ketukan yang sama, rata dan teratur.
Khusus khuruf WAWU dan ALIF yang berfungsi sebagai tanda JAMAK
(lihat ketukan ke-10), dihitung satu khuruf atau satu ketukan. Ini berlaku
umum. Semua WAWU dan ALIF yang berfungsi sebagai tanda jamak, dihitung satu
ketukan.
Sahabat SILAT
Pada contoh di atas, ada 4 contoh bacaan mad. Yaitu terjadi pada
ketukan ke-5 dan 6, ke-9 dan 10, ke-11 dan 12 serta ke-13 dan 14. Panduan
cara membaca Mad Thobi’i adalah sebagai berikut:
o Ketukan
ke-5 berbunyi “MA”. Pertahankan bunyi “MA” hingga ketukan ke-6. Bunyi “MA”
berakhir sebelum ketukan ke-7 saat bunyi “SHO” diucapkan.
o Ketukan
ke-9 berbunyi ” ‘U “. Pertahankan bunyi ” ‘U ” hingga ketukan ke-10. Bunyi ” ‘U
” berakhir sebelum ketukan ke-11 saat bunyi “FI” diucapkan.
o Ketukan
ke-11 berbunyi “FI”. Pertahankan bunyi “FI” hingga ketukan ke-12. Bunyi “FI ”
berakhir sebelum ketukan ke-13 saat bunyi “HA” diucapkan.
o Ketukan
ke-13 berbunyi “HA”. Pertahankan bunyi “HA” hingga ketukan ke-14. Bunyi “HA ”
berakhir pada ketukan ke-15. Pas ketukan ke-15, bunyi “HA” sudah hilang.
Sahabat SILAT
Hak ketukan Mad Thobi’i hanya 2 ketukan saja. Jangan
dilebih-lebihkan, karena akan menyalahi ‘urf quro’. Sekalipun derajat
kesalahannya hanya ‘makruh’, namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan.
Pembaca Alqur’an yang baik, membaca Mad Thobi’i hanya 2 ketukan saja.
Untuk diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Thobi’i tidak boleh
dikurangi. Pengurangan ketukan mad thobi’i, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan,
mengakibatkan kesalahan fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena
mengubah arti.
Cara Membaca Mad Badal

Sahabat SILAT
Penggalan
ayat tersebut di atas, terdiri atas 10 khuruf. Karena spasi tidak
mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10 ketukan
yang sama, rata dan teratur.
Sahabat SILAT
Pada contoh
di atas, bacaan mad badal terjadi pada ketukan ke-3 dan 4. Panduan cara membaca
Mad Badal adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-3 berbunyi “A”. Pertahankan bunyi “A” hingga ketukan
ke-4. Bunyi “A” berakhir sebelum ketukan ke-5 saat bunyi “MA” diucapkan.
Sahabat SILAT
Hak
ketukan Mad Badal hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan
menyalahi ‘urf quro’. Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’,
namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca
Mad Badal hanya 2 ketukan saja.
Untuk
diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Badal tidak boleh dikurangi. Pengurangan
ketukan mad Badal, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan, mengakibatkan kesalahan
fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena mengubah arti.
Cara Membaca Mad Badal

Sahabat SILAT
Penggalan
ayat tersebut di atas, terdiri atas 10 khuruf. Karena spasi tidak
mendapatkan ketukan, maka potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10 ketukan
yang sama, rata dan teratur.
Sahabat SILAT
Pada
contoh di atas, bacaan mad badal terjadi pada ketukan ke-3 dan 4. Panduan cara
membaca Mad Badal adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-3 berbunyi “A”. Pertahankan bunyi “A” hingga ketukan
ke-4. Bunyi “A” berakhir sebelum ketukan ke-5 saat bunyi “MA” diucapkan.
Sahabat SILAT
Hak
ketukan Mad Badal hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan
menyalahi ‘urf quro’. Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’,
namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca
Mad Badal hanya 2 ketukan saja.
Untuk
diperhatikan bersama. Ketukan pada Mad Badal tidak boleh dikurangi. Pengurangan
ketukan mad Badal, dari 2 ketukan menjadi 1 ketukan, mengakibatkan kesalahan
fatal (Al-Lakhnu Al-jaliy), hukumnya kharam, karena mengubah arti.
Cara Membaca Mad Tamkin

Sahabat SILAT
Penggalan ayat tersebut di atas, terdiri atas 9 khuruf.
Namun, karena Mad Tamkin dihitung 2 ketukan (Khuruf
ber-tasydid mendapatkan hak 2 ketukan), maka
potongan ayat tersebut harus dibaca dalam 10 ketukan yang sama, rata dan
teratur.
Saudaraku…
Pada
contoh di atas, bacaan Mad Tamkin terjadi pada ketukan ke-7 dan 8. Panduan cara
membaca Mad Tamkin adalah sebagai berikut:
Ketukan ke-7 berbunyi “YI”. Pertahankan bunyi “YI” hingga ketukan
ke-8. Bunyi “YI” berakhir/hilang pada
ketukan ke-9 saat pindah ke bunyi “TUM”.
Saudaraku…
Hak
ketukan Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja. Jangan dilebih-lebihkan, karena akan
menyalahi ‘urf quro’. Sekalipun derajat kesalahannya hanya ‘makruh’,
namun kesalahan itu harus tetap ditiadakan. Pembaca Alqur’an yang baik, membaca
Mad Tamkin hanya 2 ketukan saja.
MAD SHILAH QOSHIROH

Mad Shilah Qashirah yaitu pemanjangan suara pada khuruf HA dlomir (suara HII atau HUU kata ganti orang
ketiga tunggal) dengan syarat tidak diikuti khuruf hamzah sesudahnya. Suara HII
atau HUU pada kata ganti orang ketiga, akan dipanjangkan ketika diapit oleh
khuruf-khuruf hidup. Pemanjangan suara pada khuruf HA dlomir tidak disebabkan
oleh khuruf mad, tetapi karena diapit oleh khuruf hidup, dengan tujuan agar
bacaannya menjadi mudah.
Penambahan
khuruf hamzah sesudahnya mengakibatkan kasus mad berbeda yang bernama Mad
Shilah Thowilah.
Mad Shilah
Qoshiroh panjangnya 2 ketukan saja.
Contoh
Mad Shilah Qoshiroh adalah:

Mad ‘Aridl Lissukuun
Sahabat SILAT
Mad ‘Aridl
Lissukuun adalah mad yang diikuti oleh khuruf (yang sebenarnya hidup, tapi…)
dimatikan, karena ada di akhir bacaan (posisi waqof).
Boleh
jadi, akhir bacaan itu pas terjadi di akhir ayat (ditandai nomor ayat). Atau
bisa juga terjadi di tengah ayat, yang karena terbatasnya nafas, bacaan harus
terhenti sebelum akhir ayat. Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir
bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di atas. Mad ‘Aridl Lissukun
tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.
Durasi
yang diperkenankan untuk Mad ‘Aridl Lissukun adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.
Mana yang
anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada
ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih
membaca Mad ‘Aridl Lissukuun dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten
mempraktekkannya pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.
Untuk
memperjelas penjelasan tentang Mad ‘Aridl Lissukun, mari kita simak contoh
berikut:

Sahabat SILAT
Deret khuruf
yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang menunjukkan
formasi Mad ‘Aridl Lissukun. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan
mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Attiin dibaca total
hanya dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad ‘Aridl
Lissukun hanya terjadi pada akhir ayat terakhir.
Untuk
diingat, Mad ‘Aridl Lissukun hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).
Mad Lin
Sahabat SILAT
Mad Lin
(atau juga disebut Mad Layyin) adalah mad yang terjadi pada akhir bacaan
(posisi waqof/berhenti membaca) dengan formula : Bacaan miring + satu khuruf
(yang sebenarnya hidup, tapi…) dimatikan, karena ada di posisi waqof.
Yang
disebut bacaan miring (lin) adalah bacaan “AI” atau bacaan “AU”. Bacaan “AI”
terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf YA SUKUN.
Bacaan “AU” terjadi karena khuruf berbaris fatkhah diikuti oleh khuruf
WAWU SUKUN.
Jadi Mad
Lin terjadi pada bacaan AU + satu khuruf yang dimatikan, atau bacaan AI + satu
khuruf yang dimatikan.
Mad Lin
hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof) yang berformula tersebut di
atas. Mad Lin tidak mungkin terjadi di awal/tengah bacaan.
Durasi
yang diperkenankan untuk Mad Lin adalah 2, atau 4 atau 6 ketukan.
Mana yang
anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 2, 4 atau 6 ketukan, tetapi pada
ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih
membaca Mad Lin dengan 4 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya
pada semua akhir bacaan yang berformula mad ini.
Di antara
contoh Mad Lin adalah seperti tersebut pada Surat Quroisy sebagaimana berikut:

Sahabat SILAT
Deret
khuruf yang ditampilkan dengan warna merah, itulah deret khuruf yang
menunjukkan formasi Mad Lin. Tentunya dengan syarat, bahwa pembaca akan
mengakhiri bacaan pada setiap akhir ayat. Bila Surat Quroisy dibaca total hanya
dengan satu nafas (tidak berhenti kecuali di akhir surat) maka Mad Lin hanya
terjadi pada akhir ayat terakhir.
Untuk
diingat, Mad Lin hanya terjadi pada akhir bacaan (posisi waqof).
Mad Wajib Muttashiil
Sahabat SILAT
Apakah Mad
Wajib Muttashiil itu ?
Mad Wajib
Muttashiil terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH
QOTHO’, dimana letak keduanya masih dalam satu kata.
Durasi
pengucapan Mad Wajib Muttahiil adalah 4 atau 5 ketukan.
Mana yang
anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 4 atau 5 ketukan, tetapi
pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih
membaca Mad Wajib Muttahiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten mempraktekkannya
pada semua bacaan yang berformula mad ini.
Di antara
contoh Mad Wajib Muttashiil adalah sebagai berikut:

Sahabat SILAT
Pada
contoh di atas, ada 4 kotak tulisan berwarna merah. Itulah contoh empat buah
kata yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’ (dalam 1 kata).
Itulah contoh Mad Wajib Muttashiil.
Mad Jaiz Munfashiil
Sahabat SILAT
Apakah Mad
Jaiz Munfashiil itu ?
Mad Jaiz Munfashiil
terjadi apabila Mad Thobi’i langsung diikuti oleh khuruf HAMZAH QOTHO’, dimana
letak keduanya terpisah, tidak dalam satu kata. Jadi Mad Thobi’i-nya terletak
pada akhir sebuah kata, kemudian Hamzah Qotho’-nya terletak di awal kata
berikutnya.
Durasi
pengucapan Mad Jaiz Munfashiil adalah 4 atau 5 ketukan.
Mana yang
anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 4 atau 5 ketukan, tetapi
pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih
membaca Mad Jaiz Munfashiil dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten
mempraktekkannya pada semua bacaan yang berformula mad ini.
Di antara
contoh Mad Jaiz Munfashiil adalah sebagai berikut:

Sahabat SILAT
Pada
contoh di atas, ada 2 contoh yang masing-masing memuat Mad Thobi’i + Hamzah
Qotho’ (dalam 2 kata). Itulah contoh Mad Jaiz Munfashiil.
SARAN:
Agar
bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Jaiz Munfashiil disamakan dengan
panjang Mad Wajib Muttahiil, sehingga menjadi singkron. Bila Mad Wajib
Muttashiil dibaca dengan durasi 5 ketukan, maka Mad Jaiz Munfashiil
sebaiknya juga 5 ketukan.

Sumber binalquran
Perbedaan Mad Wajib Muttashiil dan
Mad Jaiz Munfashiil
Sahabat SILAT
Ada
kesamaan rumus antara Mad Wajib Muttashiil dan Mad Jaiz Munfashiil. Keduanya
timbul dari Mad Thobi’i + Hamzah Qotho’. Bedanya hanya pada letak hamzah-nya
saja. Pada Mad Wajib Muttashiil, Hamzah Qotho’ terletak dalam satu kata.
Sedangkan pada Mad Jaiz Munfashiil, Hamzah Qotho’ terletak pada kata yang
berbeda.
Permasalahannya
adalah : Bagaimana membedakan letak hamzah pada 1 kata atau tidak ?
Bagi yang
pernah mempelajari bahasa arab, hal ini bukan masalah. Bagi yang tidak mengerti
bahasa arab, bagaimana ?
Banyak
yang terjebak, ketika dalam ujian tahsin harus menentukan mana yang bernama Mad
Wajib Muttashiil dan mana yang Mad Jaiz Munfashiil ? Tertukarnya jawaban
dilatarbelakangi ketidaktahuan tentang bahasa arab.
Jangan khawatir ! Karena masih ada satu cara menentukan kedua
jenis mad ini, yaitu dengan melihat BENTUK PENULISAN HAMZAH-nya.
Coba anda
lihat, penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Wajib Muttashiil berikut:

Kemudian…
bandingkan dengan penulisan bentuk hamzah qotho’ pada Mad Jaiz Munfashiil
berikut:

Hmmm…..
Sekarang anda tahu bedanya bukan ? Ternyata penulisan hamzah di
depan (sebagai tanda mad jaiz) dan di belakang (sebagai tanda mad wajib) sangat
berbeda.
Mad Shilah Towilah
Apakah Mad
Shilah Thowilah itu ?
Mad Shilah
Thowilah terjadi apabila Mad Shilah Qoshiroh diikuti huruf hamzah.
Panjang
Mad Shilah Thowilah adalah 4 – 5 kharokat.
Mana yang
anda pilih ? Intinya adalah bukan pada pilihan 4 atau 5 ketukan, tetapi
pada ke-konsisten-an anda dalam mempraktekkannya. Misalnya, jika anda memilih
membaca Mad Shilah Thowilah dengan 5 ketukan, maka anda harus konsisten
mempraktekkannya pada semua bacaan yang berformula mad ini.
Berikut
ini adalah contoh Mad Shilah Thowilah (perhatikan tampilan berwarna
merah):

PERHATIAN:
Agar
bacaan terdengar bagus, sebaiknya, panjang Mad Shilah Thowilah disamakan
panjangnya dengan Mad Jaiz Munfashiil dan Mad Wajib Muttahiil, sehingga
menjadi singkron. Bila Mad Wajib Muttashiil dan Mad Jaiz Munfashiil
dibaca dengan durasi 5 ketukan, maka Mad Shilah Thowilah sebaiknya juga dibaca
dengan panjang 5 ketukan.
Mad Lazim Mutsaqol Kalimi
Apakah Mad
Lazim Mutsaqol Kalimi itu ?
Mad Lazim
Mutsaqol Kalimi adalah Mad yang terjadi dari Mad Thobi’i yang diikuti oleh
khuruf bertasydid, dimana keduanya masih berada pada satu kata. Bila tanda
tasydid berada di lain kata, maka tidak terjadi mad.
Durasi Mad
Lazim Mutsaqol Kalimi adalah 6 kharokat.
Berikut
ini adalah contoh Mad Lazim Mutsaqol Kalimi (perhatikan tampilan
berwarna merah):

Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi
Mad Lazim
Mukhoffaf Kalimi adalah mad yang terjadi dari pertemuan antara Mad Badal
dengan khuruf bertanda sukun (mati).
Durasi Mad
Lazim Mukhoffaf Kalimi adalah 6 kharokat.
Kasus mad
ini hanya terjadi di 2 tempat dalam Al-quran, yaitu pada surat Yunus (10) ayat
51 dan 91.
Berikut
ini adalah Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi (perhatikan tampilan berwarna
merah):

Mad Farq
Mad Farq
adalah mad yang terjadi dari pertemuan antara Mad Badal dan khuruf bertasydi.
Durasi Mad
Farq adalah 6 kharokat.
Kasus mad
ini hanya terjadi di 4 tempat dalam Al-quran, yaitu pada surat Al-An’am (6)
ayat 143 -144, surat Yunus (10) ayat 59 dan surat An-Naml (27) ayat 59.
Berikut
ini adalah Mad Farq (perhatikan tampilan berwarna merah) :

Mad Kharfi
Saudaraku…
Mad kharfi
adalah bacaan panjang pada khuruf MUQOTHO’AH. Khuruf Muqotho’ah adalah
khuruf yang dibaca sebagaimana nama khurufnya. Khuruf Muqotho’ah terdapat pada
ayat pertama surat-surat tertentu sebagai pembuka surat. Oleh karena itu khuruf
muqotho’ah juga disebut fawatikhus suwar.
Secara garis besar, khuruf muqotho’ah dibaca dengan 3 pola
sebagai berikut:
Pertama :
Tidak ada mad (pemanjangan suara) yaitu khuruf ALIF. Khuruf ALIF sebagai khuruf
muqotho’ah dibaca dengan bunyi “ALIF” dengan 3 ketukan (karena terdiri dari 3
khuruf).
Kedua :
Mad sepanjang 2 ketukan, terjadi pada khuruf-khuruf berikut:

Ketiga :
Mad sepanjang 6 ketukan, terjadi pada khuruf-khuruf berikut:

Contoh
ayat yang mengandung khuruf muqotho’ah adalah:

Khuruf
berwarna merah dibaca dengan durasi 2 ketukan, sedangkan khuruf berwarna biru
panjangnya 6 ketukan.
Saudaraku…
Bagaimana
cara membedakan khuruf yang dibaca 2 ketukan dan 6 ketukan ? Perhatikan bedanya
! Khuruf-khuruf yang apabila dituliskan namanya, ia terdiri dari 2
khuruf, maka ia dibaca 2 ketukan (seperti : RO, HA, YA, THO dan KHA).
Khuruf-khuruf yang apabila dituliskan namanya, ia terdiri dari 3 khuruf, maka
ia dibaca 6 ketukan (seperti : NUN, QOF, SHOD, ‘AIN, SIN, LAM, KAF dan
MIM). Hmmm…. mudah bukan ?
Secara
terperinci, Mad Kharfi terdiri atas 3 macam mad: yaitu Mad Lazim Mukhoffaf
Kharfi, Mad Lazim Mutsaqol Kharfi dan Mad Thobi’i Kharfi.
Mad Lazim Mukhoffaf Kharfi
Mad Lazim
Mukhoffaf Kharfi adalah mad yang bertemu sukun yang terjadi pada rangkaian
khuruf-khuruf Muqotho’ah.
Durasi Mad
Lazim Mukhoffaf Kharfi adalah 6 ketukan.
Contoh Mad
Lazim Mukhaffaf Kharfi adalah:

Khuruf-khuruf
yang ditampilakan dengan warna biru, itulah yang disebut Mad Lazim Mukhaffaf
Kharfi.
Mad Lazim Mutsaqol Kharfi
Mad Lazim
Mutsaqol Kharfi adalah mad yang bertemu dengan tasydid (karena idghom) yang
terjadi pada rangkaian khuruf muqotho’ah.
Durasi Mad
Lazim Mutsaqol Kharfi adalah 6 ketukan.
Contoh Mad
Lazim Mutsaqol Kharfi adalah:

Khuruf
LAM yang bertemu Khuruf MIM dan Khuruf SIN yang bertemu khuruf MIM,
masing-masing menimbulkan tasydid dan menjadi idghom. Itulah yang disebut
dengan Mad Lazim Mutsaqol Kharfi.
Mad Thobi’i Kharfi
Mad
Thobi’i Kharfi adalah mad yang panjangnya 2 kharokat pada khuruf muqotho’ah.
Khuruf-khuruf
yang tampak dengan tampilan warna merah pada contoh di bawah ini, itulah yang
disebut dengan Mad Thobi’i Kharfi, panjangnya 2 ketukan.

Sumber binalquran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukron Katsiron