Sabtu, 13 Juni 2015

Cara Membaca Gunnah,iqlab,ikhfa', idhgam, idhar dan isymam

Cara Membaca Ghunnah
Cara membaca Ghunnah adalah sebagai berikut:

o    Pada ketukan ke-1 anda akan mengucapkan ‘TSUM’. Pertahankan bibir  anda pada posisi bunyi ‘M’ hingga ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘MA’ pada ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-1 hingga menjelang ketukan ke-5 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘M’ dengan durasi 4 ketukan.
o    Pada ketukan ke-10  anda akan mengucapkan ‘LUN’. Pertahankan lidah  anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-10  hingga menjelang ketukan ke-14 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.
o    Pada ketukan ke-22  anda akan mengucapkan ‘NIN’. Pertahankani lidah  anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-22  hingga menjelang ketukan ke-26 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.

Cara Membaca Iqlab

Cara membaca Iqlab adalah sebagai berikut:
Pada ketukan ke-2 anda mengucapkan ‘YUM’. Pertahankan bibir anda pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-6. Bersamaan dengan pengucapan ‘BA’ pada ketukan ke-6, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-2 hingga menjelang ketukan ke-6 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara  Iqlab. Suara ‘N’ berbalik menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Pada ketukan ke-11 terdapat kasus Ghunnah. Cara membacanya sudah dimulai sejak ketukan ke-7. Pada ketukan ke-7, anda mengucapkan ‘DZAN’. Pertahankan lidah anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-11 saat anda mengucapkan ‘NA’. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-7 hingga ketukan ke-11 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘N’. Itulah yang disebut dengan suara Ghunnah. Suara ‘N’ berdengung dengan durasi 4 ketukan.
Pada ketukan ke-3 anda mengucapkan ‘DAM’. Pertahankan bibir anda pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-7. Bersamaan dengan pengucapan ‘BA’ pada ketukan ke-7, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-3 hingga menjelang ketukan ke-7 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara  Iqlab. Suara ‘N’ berbalik menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Saudaraku…
Membaca  Iqlab tanpa didengungkan (hanya mengubah bunyi N menjadi M) adalah salah.

Ikhfa’ Khaqiqi

Ikhfa’ Khaqiqi merupakan sifat khuruf NUN Sukun yaitu samarnya suara “N” ketika khuruf NUN Sukun bertemu dengan khuruf-khuruf : TA, TSA, JIM, DAL, DZAL, ZA, SIN, SYIN, SHOD, DLOD, THO, DHO, FA, QOF dan  KAF.
Gambaran samarnya bunyi “N” adalah bunyi “N” menjadi bercampur khuruf ikhfa’. Misalnya: khuruf  N Sukun bertemu dengan khuruf  TA, maka suara “N” menjadi samar, separoh bunyi “N” dan separoh bunyi “T”. Kira-kira pertengahan bunyi “NT”.  Kecuali khuruf  NUN Sukun bertemu khuruf  KAF dan QOF, suara dengungnya menjadi “NG”.
Durasi pembacaan Ikhfa’ Khaqiqi adalah 2 mad atau 4 ketukan pada dengungnya suara “N”.
Berikut ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Khaqiqi:

Idghom Bighunnah

Idghom Bighunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu leburnya (hilang) suara “N” ketika bertemu dengan khuruf : YA, NUN, MIM dan WAWU. Efek dari hilangnya bunyi “N” adalah ditahannya suara khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU selama 4 ketukan. Jadi, khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU menjadi berdengung selama 4 ketukan.
Durasi pembacaan Idghom Bighunnah adalah 2 mad atau 4 ketukan, yaitu dengung pada khuruf  YA, NUN, MIM dan WAWU.
Berikut ini adalah contoh bacaan Idghom Bighunnah:

Idghom Bilaghunnah

Idghom Bilaghunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu hilang/leburnya suara “N” ketika bertemu dengan khuruf LAM dan RO. Efek dari hilangnya bunyi “N” adalah khuruf  LAM dan RO menjadi bertasydid dan pembacaannya ditahan 2 ketukan.
Durasi Idghom Bilaghunnah adalah 2 ketukan yaitu pada khuruf LAM dan RO.
Berikut ini adalah contoh bacaa Idghom bilaghunnah:

NUN Wiqoyah

Nun Wiqoyah adalah NUN tambahan (berbunyi “NI”) yang terjadi ketika TANWIN bertemu dengan hamzah washol.
Tambahan suara ‘NI’ berakibat bertambahnya 1 ketukan pada bunyi ‘NI’.
Berikut ini adalah contoh bacaan Nun Wiqoyah:

Id-har Syafawi

Id-har Syafawi merupakan sifat khuruf  MIM Sukun, yaitu jelasnya suara “M” (bukan suara bunyi lain) ketika khuruf Mim sukun bertemu selain khuruf BA dan MIM.
Durasi pembacaan Id-har Syafawi sama dengan durasi pembacaan khuruf sukun biasa, yaitu hanya 1 ketukan saja.
Berikut ini adalah contoh bacaan Id-har Syafawi:

Ikhfa’ Syafawi

Ikhfa’ Syafawi merupakan sifat dari mim sukun. Ikhfa’ Syafawi adalah samarnya suara “M” ketika bertemu dengan khuruf  “BA”.
Durasi pembacaan Ikhfa’ Syafawi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Syafawi:

Idghom Mimi

Idghom Mimi disebut juga dengan Idghom Mitslaini. Idghom Mimi merupakan sifat Mim Sukun, yaitu hilang/leburnya bunyi “M” ketika bertemu dengan khuruf “MIM”.
Durasi pembacaan Idghom Mimi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut ini adalah contoh bacaan Idghom Mimi:

Cara Membaca ISYMAM

ISYMAM adalah  menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata ‘LAATA’MANNA’ pada  surat Yusuf (12) ayat 11.  Isyarat bibir dimunculkan pada saat membaca GHUNNAH. Isyarat bibir dimunculkan dengan cara memajukan bibir atau memonyongkan bibir ketika sedang membaca GHUNNAH. Cara membaca ISYMAM dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada ilustrasi di atas, bacaan Ghunnah terjadi pada ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9. Dalam rentang ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9 itulah isyarat bibir (isymam) dimunculkan.
Pada ketukan ke-5, anda membaca ‘MAN’. Pertahankan lidah anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-9. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-6 hingga ketukan ke-9 tidak boleh terputus. Bunyi ‘N’ akan menghilang bersamaan dengan munculnya bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-9.
Adapun isyarat bibir (isymam) dimunculkan pada ketukan ke-6. Ya, hanya satu ketukan saja. Majukan (monyongkan) bibir anda saat jatuh pada ketukan ke-6. Saat jatuh ketukan ke-7, isyarat bibir sudah hilang, dan tetap mempraktekkan bacaan ghunnah hingga ketukan ke-9. Itulah ilustrasi praktek isymam.

Untuk hasil terbaik belajar isymam, sangat disarankan agar anda bertalaqqi kepada guru Alquran.

Sumber binaalquran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syukron Katsiron