Cara
Membaca Ghunnah

o Pada
ketukan ke-1 anda akan mengucapkan ‘TSUM’. Pertahankan bibir anda pada
posisi bunyi ‘M’ hingga ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ akan lepas bersamaan dengan
bunyi ‘MA’ pada ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-1 hingga menjelang
ketukan ke-5 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah.
Dengung terjadi pada bunyi ‘M’ dengan durasi 4 ketukan.
o Pada
ketukan ke-10 anda akan mengucapkan ‘LUN’. Pertahankan lidah anda
pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan
dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-10 hingga
menjelang ketukan ke-14 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan
bunyi Ghunnah.
Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.
o Pada
ketukan ke-22 anda akan mengucapkan ‘NIN’. Pertahankani lidah anda
pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan
dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-22 hingga
menjelang ketukan ke-26 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan
bunyi Ghunnah.
Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.
Cara Membaca Iqlab

Pada ketukan ke-2 anda mengucapkan ‘YUM’. Pertahankan bibir anda
pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-6. Bersamaan dengan pengucapan
‘BA’ pada ketukan ke-6, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-2
hingga menjelang ketukan ke-6 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung
pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara Iqlab. Suara ‘N’ berbalik
menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Pada
ketukan ke-11 terdapat kasus Ghunnah. Cara membacanya sudah dimulai sejak
ketukan ke-7. Pada ketukan ke-7, anda mengucapkan ‘DZAN’. Pertahankan lidah
anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-11 saat anda mengucapkan ‘NA’.
Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-7 hingga ketukan ke-11 tidak boleh terputus. Jadi
suaranya berdengung pada bunyi ‘N’. Itulah yang disebut dengan suara Ghunnah.
Suara ‘N’ berdengung dengan durasi 4 ketukan.

Pada ketukan ke-3 anda mengucapkan ‘DAM’. Pertahankan bibir anda
pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-7. Bersamaan dengan pengucapan
‘BA’ pada ketukan ke-7, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-3
hingga menjelang ketukan ke-7 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung
pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara Iqlab. Suara ‘N’ berbalik
menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Saudaraku…
Membaca Iqlab tanpa didengungkan (hanya mengubah
bunyi N menjadi M) adalah salah.
Ikhfa’ Khaqiqi
Ikhfa’
Khaqiqi merupakan sifat khuruf NUN Sukun yaitu samarnya suara “N” ketika khuruf
NUN Sukun bertemu dengan khuruf-khuruf : TA, TSA, JIM, DAL, DZAL, ZA, SIN,
SYIN, SHOD, DLOD, THO, DHO, FA, QOF dan KAF.
Gambaran
samarnya bunyi “N” adalah bunyi “N” menjadi bercampur khuruf ikhfa’. Misalnya:
khuruf N Sukun bertemu dengan khuruf TA, maka suara “N” menjadi
samar, separoh bunyi “N” dan separoh bunyi “T”. Kira-kira pertengahan bunyi
“NT”. Kecuali khuruf NUN Sukun bertemu khuruf KAF dan QOF,
suara dengungnya menjadi “NG”.
Durasi
pembacaan Ikhfa’ Khaqiqi adalah 2 mad atau 4 ketukan pada dengungnya suara “N”.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Khaqiqi:

Idghom Bighunnah
Idghom
Bighunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu leburnya (hilang) suara “N”
ketika bertemu dengan khuruf : YA, NUN, MIM dan WAWU. Efek dari hilangnya bunyi
“N” adalah ditahannya suara khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU selama 4 ketukan.
Jadi, khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU menjadi berdengung selama 4 ketukan.
Durasi
pembacaan Idghom Bighunnah adalah 2 mad atau 4 ketukan, yaitu dengung pada
khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Idghom Bighunnah:

Idghom Bilaghunnah
Idghom
Bilaghunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu hilang/leburnya suara “N”
ketika bertemu dengan khuruf LAM dan RO. Efek dari hilangnya bunyi “N” adalah
khuruf LAM dan RO menjadi bertasydid dan pembacaannya ditahan 2 ketukan.
Durasi
Idghom Bilaghunnah adalah 2 ketukan yaitu pada khuruf LAM dan RO.
Berikut
ini adalah contoh bacaa Idghom bilaghunnah:

NUN Wiqoyah
Nun Wiqoyah adalah NUN tambahan (berbunyi “NI”) yang terjadi
ketika TANWIN bertemu dengan hamzah
washol.
Tambahan
suara ‘NI’ berakibat bertambahnya 1 ketukan pada bunyi ‘NI’.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Nun Wiqoyah:

Id-har Syafawi
Id-har
Syafawi merupakan sifat khuruf MIM Sukun, yaitu jelasnya suara “M” (bukan
suara bunyi lain) ketika khuruf Mim sukun bertemu selain khuruf BA dan MIM.
Durasi
pembacaan Id-har Syafawi sama dengan durasi pembacaan khuruf sukun biasa, yaitu
hanya 1 ketukan saja.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Id-har Syafawi:

Ikhfa’ Syafawi
Ikhfa’
Syafawi merupakan sifat dari mim sukun. Ikhfa’ Syafawi adalah samarnya suara
“M” ketika bertemu dengan khuruf “BA”.
Durasi
pembacaan Ikhfa’ Syafawi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Syafawi:

Idghom Mimi
Idghom
Mimi disebut juga dengan Idghom Mitslaini. Idghom Mimi merupakan sifat Mim
Sukun, yaitu hilang/leburnya bunyi “M” ketika bertemu dengan khuruf “MIM”.
Durasi
pembacaan Idghom Mimi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut
ini adalah contoh bacaan Idghom Mimi:

Cara Membaca ISYMAM
ISYMAM adalah
menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata
‘LAATA’MANNA’ pada surat Yusuf (12) ayat 11.
Isyarat bibir dimunculkan pada saat membaca GHUNNAH.
Isyarat bibir dimunculkan dengan cara memajukan bibir atau memonyongkan bibir
ketika sedang membaca GHUNNAH. Cara membaca ISYMAM dapat digambarkan sebagai
berikut:

Pada
ilustrasi di atas, bacaan Ghunnah terjadi pada ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9.
Dalam rentang ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9 itulah isyarat bibir (isymam)
dimunculkan.
Pada
ketukan ke-5, anda membaca ‘MAN’. Pertahankan lidah anda pada posisi bunyi ‘N’
hingga ketukan ke-9. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-6 hingga ketukan ke-9 tidak
boleh terputus. Bunyi ‘N’ akan menghilang bersamaan dengan munculnya bunyi ‘NA’
pada ketukan ke-9.
Adapun
isyarat bibir (isymam) dimunculkan pada ketukan ke-6. Ya, hanya satu ketukan
saja. Majukan (monyongkan) bibir anda saat jatuh pada ketukan ke-6. Saat jatuh
ketukan ke-7, isyarat bibir sudah hilang, dan tetap mempraktekkan bacaan
ghunnah hingga ketukan ke-9. Itulah ilustrasi praktek isymam.
Untuk
hasil terbaik belajar isymam, sangat disarankan agar anda bertalaqqi kepada
guru Alquran.
Sumber binaalquran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Syukron Katsiron