Sabtu, 20 Juni 2015

Pengertian dan Pengelompokan Makharijul Huruf

Makhraj artinya tempat keluar. Makharijul Huruf adalah tempat keluarnya huruf-huruf pada saat dilafalkan. Pembaca Al-Quran yang baik, bukan saja harus mengetahui hukum-hukum tajwid, tetapi juga harus memperhatikan dan memahami makhraj dan sifat dari huruf-huruf yang dibacakan.



Sejumlah ulama dan ahli-ahli qiraat memiliki perbedaan dalam pengelompokan (pengklasifikasian) Makharijul Huruf, namun secara garis besar intinya adalah sama.

Terdapat 17 Makhraj yang diklasifikasikan menjadi 5 tempat, yaitu:

1. Al-Halqi / Tenggorakan (  الحلق  ) , terdapat 3 Makhraj :
-Tenggorakan Dalam (Pangkal Tenggorakan): huruf  أ dan ه .
-Ingat, di dalam hukum Mad Badal sudah dijelaskan bahwa huruf Hamzah (  ء  ) dan Alif  (  ا  ) adalah sama.  Dapat dikatakan sebagai saudara kembar yang sama dalam pengucapannya, namun berbeda fungsi dan tugasnya apabila masuk ke Hukum Mad, misalnya Hukum Mad Munfashil dan Mad Muttashil.
-Hamzah dapat dijadikan sukun (berharakat Sukun), sementara Alif tidak ada harakat sukun. Di sini kami tulis Hamzah-Alif  (  أ  ) untuk memudahkan mengingat
-Tenggorakan Tengah: huruf  ح , ع
-Tenggorakan Luar  dekat pita suara: huruf  خ , غ

2. Al-Lisani / Lidah (  اللسان  ), terdapat 10 Makhraj:
-Pangkal lidah dekat tenggorakan menyentuh sekitaran ‘anak tekak’ atau berada di atas pita suara: ق
-Pangkal lidah menyentuh langit-langit belakang: ك
-Lidah bagian tengah menekan langit-langit atas: ش , ج ,ي
-Ujung lidah dirapatkan pada Gigi Geraham atas, dan Tepi Lidah (kiri dan kanan) ditekan ke Gigi Geraham: ض
-Ujung permukaan lidah ditekan ke Gusi di atas Gigi Seri atau Gigi Atas Bagian Tengah: ل
-Ujung lidah ditekan sedikit lebih ke atas dari makhraj Lam: ن
-Ujung lidah dinaikkan ke langit-langit atas sedikit melengkung, sehingga terlihat lidah bagian belakang : ر
-Ujung lidah ditekan ke Pangkal Gigi Seri bagian atas (Gigi Seri adalah Gigi Tengah):  ت , ط , د

-Ujung lidah ditekan ke belakang Gigi Seri bagian bawah :  ص , ز ,س
-Ujung lidah dikeluarkan sedikit dan ditekan di ujung Gigi Seri bagian atas: ذ , ث,ظ

 3. Asy-Syafawi /bibir (  الشفوي  ), terdapat 2 Makhraj:
-Bibir Bawah ditekan ke Gigi Seri bagian atas  : ف
-Bibir Bawah dan Atas posisi tertutup atau merapat, yaitu و , م , ب
1.        Menutup bibir lebih ringan: huruf  م
2.        Menutup bibir sedikit lebih kuat: huruf  ب 
3.        Membulatkan bibir atas dan bawah :  و 

4. Al-Jaufi  / Rongga Mulut (  الجوف  ), terdapat 1 Makhraj:
-Merupakan makraj untuk huruf-huruf Mad yang dilepaskan ke dalam Rongga Mulut : ـــــــــــــَــــــــــــ ا , ـــــــــــــُـــــــــــ وْ , ـــــــــــــِـــــــــــ يْ

5. Al-Khaisyhumi / Pangkal Hidung (  الخيشوم  ), terdapat 1 Makhraj:
-Pangkal Hidung bagian dalam, yaitu huruf-huruf yang dibaca dengung (ghunnah):
-pada hukum Nun Sukun ( نْ ) dan  tanwin ( ــًــ, ــٍــ, ــٌــ ), yaitu Ikhfa Haqiqi, Iqlab, dan Idgham Bighunnah.
-pada hukum Mim Sukun ( مْ ), yaitu Ikhfa Syafawi dan Idgham Mitslain,
-hukum Ghunnah Musyaddadah, yaitu huruf Mim Bertasydid ( مّ ) dan Nun Bertasydid ( نّ ).
-hukum Idgham Mutajanisain hanya untuk Ba Sukun ( بْ ) bertemu dengan huruf Mim Berharakat  ( م ).
-hukum Mad Lazim Harfi Mukhaffaf hanya dikhususkan untuk huruf ‘Ain tanpa harakat ( ع ).



Dari pengelompokan Makharijul Huruf ini perlu diperhatikan bahwa terdapat beberapa huruf yang memiliki Makhraj yang sama. Namun, ketika dilapalkan – bunyi atau suara dari huruf-huruf tersebut tidaklah sama. Maka yang membedakannya terletak pada sifat huruf

Selasa, 16 Juni 2015

Pembagian Tasydid

Tasydid Hukum dan Tasydid Ashli


TASYDID ( تشديد )
Tasydid adalah tanda baca (harakat) berbentuk kepala dari huruf sin ( س ) atau mirip seperti huruf w. Tasydid adalah simbol penekanan pada suatu konsonan ganda, atau sebuah tanda baca yang terjadi karena pertemuan (pengulangan) dari sebuah huruf yang sama.
Panjang bacaan untuk huruf bertasydid umumnya adalah 1 alif atau sekitar 2 harakat. Namun dapat dibaca lebih panjang lagi, seperti Tasydid yang ada di dalam Hukum Ghunnah Musyaddadah. Dan akan lebih tebal (panjang) pantulannya ketika masuk ke dalam Hukum Qolqolah Kubro ( qolqolah yang berhenti karena tanda waqof).

Tasydid terdiri dari 2 macam, yaitu:

1.        Tasydid Hukum
2.        Tasydid Ashli
Tasydid Hukum adalah tasydid yang diberikan karena adanya HUKUM PERTEMUAN atau PELEBURAN antara huruf/kata yang satu dengan huruf/kata berikutnya – berada di tengah ayat atau pada saat washal – seperti tasydid yang ada di dalam hukum-hukum Idgham:
1.        Idgham Bighunnah,
2.        Idgham Bilaghunnah,
3.        Idgham Mutajanisain,
4.        Idgham Mutaqaribain,
5.        Idgham Mutamatsilain,
6.        Idgham Mitslain.



Di dalam suatu ayat di Al-Quran – Tasydid Hukum dapat terjadi dalam suatu kata/kalimat dan dapat pula terjadi pada kata/kalimat yang terpisah.
Tasydid Hukum seringkali dianggap sebagai simbol atau penandaan yang tidak mesti ada di dalam Al-Quran. Beberapa mushaf bahkan tidak menuliskan tanda Tasydid Hukum. Tapi untuk Al-Quran standar Indonesia umumnya sudah ditulis.
Namun perlu diketahui, perkembangan saat ini, sudah bermunculan penerbit-penerbit di Indonesia yang mencetak Al-Quran yang berbeda dari umumnya, seperti berbeda bentuk tanda harakat, tanda wakaf, dan tanda baca. Salah satunya adalah tidak dituliskannya tanda Tasydid Hukum di dalam hukum-hukum Idgham.

Sementara Tasydid Ashli adalah tasydid yang diberikan sesuai dengan asal-muasalnya, atau bukan karena Hukum Pertemuan/Peleburan Huruf/Kata. Berada di dalam satu kata/kalimat.
Tasydid Ashli mesti ada di dalam Al-Quran, berbeda dengan Tasydid Hukum, karena apabila Tasydid Ashli tidak ditulis dapat menyebabkan kekeliruan yang sangat fatal.



Tasydid Ashli dapat berarti DUA HURUF yang sama sifat dan mahrajnya yang berada dalam satu kata/kalimat, dan DIJADIKAN SATU HURUF BERTASYDID; asal muasalnya adalahsatu huruf dalam keadaan sukun, dan satu lagi memiliki baris/harakat (dapat berupa Fathah, Fathatain, Kasrah, Kasratain, Dhammah dan Dhammatain).


Perlu diketahui juga, bahwa huruf-huruf yang memiliki Tasydid Ashli dapat mempengaruhi huruf di belakang dan di depannya, sehingga terjadilah pertemuan hukum-hukum yang beragam. Misalnya, pertemuan Mad Thobi’i dengan Ghunnah Musyaddadah yang terjadi di dalam hukum Mad Lazim Kilmi Mutsaqqal.


Pembahasan mengenai tanda TASYDID ini menjelaskan bahwa setiap huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat
– yang ada di dalam Al-Quran – terdapat hukum-hukum
disebut hukum, karena ada aturan-aturan yang mengikat
Dan aturan-aturan tersebut bertujuan untuk menyempurnakan bacaan atau membaguskan bacaan
Belajar tajwid adalah belajar “menyempurnakan/membaguskan” bacaan yang terdapat di dalam kitab suci Al-Quran
Dan untuk memudahkan belajar, selalu ada HURUF/KATA KUNCI untuk mengingat atau menghapal

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, ampunan, dan hidayah-Nya kepada kita semua
Aamiin yaarabbal ‘aalamiin


Ghunnah Musyaddadah
Ghunnah Musyaddadah ( غُنَّةُ مُشَدَّدَةٌ ) adalah hukum tajwid yang berlaku apabila huruf Mim dan Nun dalam keadaan bertasydid ( نّ / مّ ) .
- Ghunnah artinya dengung; suara yang terdengar jelas dan nyaring yang keluar dari pangkal hidung (khaisyum)

- Musyaddadah artinya bertasydid
Tasydid yang ada di dalam Ghunnah Musyaddadah adalah Tasydid Ashli , bukan Tasydid Hukum sebagaimana yang ada di dalam Hukum Idgham Bighunnah atau Bilaghunnah. Silahkan baca mengenai Tanda Tasydid <—- KLIK DI SINI !
Cara membaca Ghunnah Musyaddadah adalah membaca terlebih dahulu HURUF sebelum MIM/NUN bertasydid ( نّ / مّ ) , kemudian HURUF tersebut masuk ke tanda tasydid ( نّ / مّ) –  lalu huruf   نّ / مّ langsung didengungkan secara jelas ke pangkal hidung (khaisyum), sekitar 1 1/2 Alif atau sekitar 2 – 3 harakat.
sehingga ada alunan innn.. / unnn… / annn…
atau immm.. / ummm.. / ammm..
Di dalam Al-Quran, Ghunnah Musyaddadah dapat berada di awal ayat, di tengah ayat, maupun di ujung ayat.

Ghunnah Musyaddadah di Samping Tanda Waqof / di Ujung Ayat

Ghunnah Musyaddadah juga dapat terjadi di ujung ayat atau di tengah ayat yang letaknya berada disamping tanda Wakof.
Cara mengunci bacaan ketika huruf terakhirnya mengandung Hukum Ghunnah Musyaddadah adalah tetap didengungkan, karena jika langsung dikunci maka Tanda Tasydid dari huruf tersebut akan hilang. 

Jadi, cara mengunci bacaannya adalah cukup didengungkan = nnn… atau mmm……  1 1/2 Alif atau sekitar 2 – 3 harakat
Lihat contoh surah Al-Anbiyaa Ayat 88 dibawah ini.
Di tengah ayat terdapat Ghunnah Musyaddadah, yaitu huruf Mim Bertasydid disamping tanda Waqof  Tho ( ﻁ ).
Waqof Tho adalah Wakof Mutlaq, yaitu wajib berhenti, Insya Allah akan dibahas di dalam pembagian waqof.


Hukum Idgham Mutajanisain

Idgham Mutajanisain adalah hukum tajwid yang berlaku apabila terjadi pertemuan dua huruf yang berbeda sifat, namun sejenis tempat keluar suara atau makhraj-nya; satu dalam keadaan sukun dan satu lagi berharakat.

- Mutajanisain artinya sejenis
- Idgham artinya meleburkan satu huruf ke dalam huruf setelahnya (di-tasydid-kan).
Di dalam Al-Quran untuk huruf kedua yang berharakat sudah ditandai dengan Tanda Tasydid. Tasydid pada Hukum Idgham Mutajanisain adalah Tasydid Hukum, yaitu tasydid yang diberikan karena terjadinya pertemuan dua huruf. Sebagaimana fungsi tasydid, maka panjang bacaannya adalah 2 harakat, sebagai bentuk penekanan dua huruf yang bertemu.
Cara membacanya adalah dengan ‘mengabaikan’ huruf yang sukun, dan langsung masuk ke huruf yang berharakat, atau huruf yang sukun dileburkan ke huruf yang berharakat.


Hukum Idgham Mutajanisain berlaku untuk 8 huruf, yaitu:  ب , ت , ث ,د , ذ , ط , ظ , م
Delapan Huruf tersebut berasal dari 3 kelompok Makhraj:
1. Huruf Ba ( بْ )  dan mim ( م ) berasal dari Makhraj Syafawi; bibir atas dan bibir bawah posisi tertutup atau merapat
2. Huruf Ta ( ت ), Tha ( ط ), dan Dal ( د ) berasal dari Makhraj Lisani; ujung lidah yang bertemu dengan pangkal gigi seri atas (gigi tengah atas).
3.Huruf Dzal ( ذ ), Zha’ ( ظ ), dan Tsa’  ( ت ) berasal dari Makhraj Lisani; Ujung lidah dikeluarkan sedikit dan ditekan di ujung Gigi Seri (Gigi Tengah) bagian atas.
Jika masih bingung dengan pengelompokan Makhraj huruf-huruf ini, silahkan baca Makharijul Huruf

Di dalam Hukum Idgham Mutajanisain, terjadi 7 pertemuan huruf yang sama makrajnya, yaitu:
1.        Ba Sukun  ( بْ ) bertemu huruf Mim Berharakat ( م )
2.        Ta Sukun ( تْ ) bertemu huruf Dal Berharakat ( د )
3.        Ta Sukun ( تْ ) bertemu huruf Tha Berharakat ( ط )
4.        Tsa Sukun ( ثْ ) bertemu huruf Dzal Berharakat ( ذ )
5.        Dal Sukun ( دْ ) bertemu huruf Ta Berharakat ( ت )
6.        Dzal Sukun ( ذْ ) bertemu huruf Zha’ Berharakat ( ظ )
7.        Tha Sukun ( طْ ) bertemu huruf Ta Berharakat ( ت )
Pertemuan huruf-huruf tersebut dibaca jelas (izhar) tanpa disertai dengung, kecuali huruf Ba Sukun bertemu huruf Mim berharakat.
Jika huruf Ba ‘diabaikan’, maka huruf Mim menjadi huruf yang bertasydid, maka secara otomatis huruf Mim tersebut akan dibaca dengung – sebagaimana fungsi tasydid pada hukumGhunnah Musyadaddah yang dapat didengungkan 1 – 1 1/2 Alif atau sekitar 2 – 3 harakat.

Hukum Idgham Mutamatsilain
Idgham Mutamatsilain adalah hukum tajwid yang berlaku untuk pertemuan dua huruf yang sama sifat dan mahrajnya; satu dalam keadaan sukun dan satu lagi berharakat. Dua huruf tersebut berada di dalam kata/kalimat yang terpisah.

§  Mutamatsilain artinya sama/serupa
§  Idgham artinya meleburkan satu huruf ke dalam huruf setelahnya (di-tasydid-kan).
Cara membacanya adalah dengan memasukkan (meleburkan) huruf yang bersukun ke dalam huruf berharakat secara jelas/terang dan tidak didengungkan.
Di dalam Al-Quran, hukum Idgham Mutamatsilain sudah diberi tanda tasydid, yaitu tasydid yang diberikan karena hukum pertemuan atau perleburan ( Silahkan baca–> Tasydid Hukum dan Tasydid Ashli ) .
Fungsi Tasydid disini sebagai penanda bahwa terjadi pertemuan dua huruf yang identik, dan lafadz tasydid tersebut harus terdengar jelas, dan tidak terjadi dengung (ghunnah). Sebagaimana telah dijelaskan di dalam pengertian hukum Mad, huruf bertasydid kadar panjang bacaannya adalah 2 harakat. Fungsi tasydid pada hukum Idgham Mutamatsilain sama seperti fungsi tasydid pada hukum Idgham Bilaghunnah, yaitu tidak disertai dengung.

Hukum Idgham Mutamatsilain berlaku untuk semua huruf, kecuali:
1. Huruf Mim Sukun ( مْ ) bertemu huruf Mim Berharakat ( مَ , مِ , مُ ), yang berlaku adalah hukum Idgham Mitslain.
2.Huruf Nun Sukun ( نْ ) bertemu huruf Nun Berharakat ( نَ , نِ , نُ ), yang berlaku adalah hukum Idgham Bighunnah.
3.Huruf Ya ( ي )  dan huruf Waw ( و ) akan dijelaskan di bagian bawah.


Idgham Mutamatsilain Pada Huruf Ya ( ي )  dan huruf Waw ( و ):
Perlu diketahui, apabila terjadi pertemuan huruf Ya Sukun ( يْ )  dan Ya Berharakat, dan Waw Sukun ( وْ ) bertemu Waw Berharakat, maka terjadi dua hukum yang berlaku, yaitu Idgham Mutamatsilain dan Hukum Mad Tamkin. Di dalam hukum Mad Tamkin, tidak terdapat tanda Tasydid Hukum.

Sabtu, 13 Juni 2015

Cara Membaca Gunnah,iqlab,ikhfa', idhgam, idhar dan isymam

Cara Membaca Ghunnah
Cara membaca Ghunnah adalah sebagai berikut:

o    Pada ketukan ke-1 anda akan mengucapkan ‘TSUM’. Pertahankan bibir  anda pada posisi bunyi ‘M’ hingga ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘MA’ pada ketukan ke-5. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-1 hingga menjelang ketukan ke-5 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘M’ dengan durasi 4 ketukan.
o    Pada ketukan ke-10  anda akan mengucapkan ‘LUN’. Pertahankan lidah  anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-14. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-10  hingga menjelang ketukan ke-14 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.
o    Pada ketukan ke-22  anda akan mengucapkan ‘NIN’. Pertahankani lidah  anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ akan lepas bersamaan dengan bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-26. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-22  hingga menjelang ketukan ke-26 tidak boleh terputus. Itulah yang disebut dengan bunyi Ghunnah. Dengung terjadi pada bunyi ‘N’ dengan durasi 4 ketukan.

Cara Membaca Iqlab

Cara membaca Iqlab adalah sebagai berikut:
Pada ketukan ke-2 anda mengucapkan ‘YUM’. Pertahankan bibir anda pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-6. Bersamaan dengan pengucapan ‘BA’ pada ketukan ke-6, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-2 hingga menjelang ketukan ke-6 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara  Iqlab. Suara ‘N’ berbalik menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Pada ketukan ke-11 terdapat kasus Ghunnah. Cara membacanya sudah dimulai sejak ketukan ke-7. Pada ketukan ke-7, anda mengucapkan ‘DZAN’. Pertahankan lidah anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-11 saat anda mengucapkan ‘NA’. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-7 hingga ketukan ke-11 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘N’. Itulah yang disebut dengan suara Ghunnah. Suara ‘N’ berdengung dengan durasi 4 ketukan.
Pada ketukan ke-3 anda mengucapkan ‘DAM’. Pertahankan bibir anda pada posisi pengucapan “M” hingga ketukan ke-7. Bersamaan dengan pengucapan ‘BA’ pada ketukan ke-7, bunyi ‘M’ pun menghilang. Bunyi ‘M’ dari ketukan ke-3 hingga menjelang ketukan ke-7 tidak boleh terputus. Jadi suaranya berdengung pada bunyi ‘M’. Itulah yang disebut dengan suara  Iqlab. Suara ‘N’ berbalik menjadi suara ‘M’ dengan didengungkan selama 4 ketukan.
Saudaraku…
Membaca  Iqlab tanpa didengungkan (hanya mengubah bunyi N menjadi M) adalah salah.

Ikhfa’ Khaqiqi

Ikhfa’ Khaqiqi merupakan sifat khuruf NUN Sukun yaitu samarnya suara “N” ketika khuruf NUN Sukun bertemu dengan khuruf-khuruf : TA, TSA, JIM, DAL, DZAL, ZA, SIN, SYIN, SHOD, DLOD, THO, DHO, FA, QOF dan  KAF.
Gambaran samarnya bunyi “N” adalah bunyi “N” menjadi bercampur khuruf ikhfa’. Misalnya: khuruf  N Sukun bertemu dengan khuruf  TA, maka suara “N” menjadi samar, separoh bunyi “N” dan separoh bunyi “T”. Kira-kira pertengahan bunyi “NT”.  Kecuali khuruf  NUN Sukun bertemu khuruf  KAF dan QOF, suara dengungnya menjadi “NG”.
Durasi pembacaan Ikhfa’ Khaqiqi adalah 2 mad atau 4 ketukan pada dengungnya suara “N”.
Berikut ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Khaqiqi:

Idghom Bighunnah

Idghom Bighunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu leburnya (hilang) suara “N” ketika bertemu dengan khuruf : YA, NUN, MIM dan WAWU. Efek dari hilangnya bunyi “N” adalah ditahannya suara khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU selama 4 ketukan. Jadi, khuruf YA, NUN, MIM dan WAWU menjadi berdengung selama 4 ketukan.
Durasi pembacaan Idghom Bighunnah adalah 2 mad atau 4 ketukan, yaitu dengung pada khuruf  YA, NUN, MIM dan WAWU.
Berikut ini adalah contoh bacaan Idghom Bighunnah:

Idghom Bilaghunnah

Idghom Bilaghunnah merupakan sifat khuruf NUN Sukun, yaitu hilang/leburnya suara “N” ketika bertemu dengan khuruf LAM dan RO. Efek dari hilangnya bunyi “N” adalah khuruf  LAM dan RO menjadi bertasydid dan pembacaannya ditahan 2 ketukan.
Durasi Idghom Bilaghunnah adalah 2 ketukan yaitu pada khuruf LAM dan RO.
Berikut ini adalah contoh bacaa Idghom bilaghunnah:

NUN Wiqoyah

Nun Wiqoyah adalah NUN tambahan (berbunyi “NI”) yang terjadi ketika TANWIN bertemu dengan hamzah washol.
Tambahan suara ‘NI’ berakibat bertambahnya 1 ketukan pada bunyi ‘NI’.
Berikut ini adalah contoh bacaan Nun Wiqoyah:

Id-har Syafawi

Id-har Syafawi merupakan sifat khuruf  MIM Sukun, yaitu jelasnya suara “M” (bukan suara bunyi lain) ketika khuruf Mim sukun bertemu selain khuruf BA dan MIM.
Durasi pembacaan Id-har Syafawi sama dengan durasi pembacaan khuruf sukun biasa, yaitu hanya 1 ketukan saja.
Berikut ini adalah contoh bacaan Id-har Syafawi:

Ikhfa’ Syafawi

Ikhfa’ Syafawi merupakan sifat dari mim sukun. Ikhfa’ Syafawi adalah samarnya suara “M” ketika bertemu dengan khuruf  “BA”.
Durasi pembacaan Ikhfa’ Syafawi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut ini adalah contoh bacaan Ikhfa’ Syafawi:

Idghom Mimi

Idghom Mimi disebut juga dengan Idghom Mitslaini. Idghom Mimi merupakan sifat Mim Sukun, yaitu hilang/leburnya bunyi “M” ketika bertemu dengan khuruf “MIM”.
Durasi pembacaan Idghom Mimi adalah 2 mad atau 4 ketukan.
Berikut ini adalah contoh bacaan Idghom Mimi:

Cara Membaca ISYMAM

ISYMAM adalah  menampakkan dhommah yang terbuang dengan isyarat bibir ketika membaca kata ‘LAATA’MANNA’ pada  surat Yusuf (12) ayat 11.  Isyarat bibir dimunculkan pada saat membaca GHUNNAH. Isyarat bibir dimunculkan dengan cara memajukan bibir atau memonyongkan bibir ketika sedang membaca GHUNNAH. Cara membaca ISYMAM dapat digambarkan sebagai berikut:
Pada ilustrasi di atas, bacaan Ghunnah terjadi pada ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9. Dalam rentang ketukan ke-6 s.d. ketukan ke-9 itulah isyarat bibir (isymam) dimunculkan.
Pada ketukan ke-5, anda membaca ‘MAN’. Pertahankan lidah anda pada posisi bunyi ‘N’ hingga ketukan ke-9. Bunyi ‘N’ dari ketukan ke-6 hingga ketukan ke-9 tidak boleh terputus. Bunyi ‘N’ akan menghilang bersamaan dengan munculnya bunyi ‘NA’ pada ketukan ke-9.
Adapun isyarat bibir (isymam) dimunculkan pada ketukan ke-6. Ya, hanya satu ketukan saja. Majukan (monyongkan) bibir anda saat jatuh pada ketukan ke-6. Saat jatuh ketukan ke-7, isyarat bibir sudah hilang, dan tetap mempraktekkan bacaan ghunnah hingga ketukan ke-9. Itulah ilustrasi praktek isymam.

Untuk hasil terbaik belajar isymam, sangat disarankan agar anda bertalaqqi kepada guru Alquran.

Sumber binaalquran